Tugas Siswa

Analisis Hikayat Kintaro By Ahmad Aldi x IIS 1

1
Ahmad Aldi
Ditulis Oleh Ahmad Aldi

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-ansi-language:IN;}
table.MsoTableGrid
{mso-style-name:”Table Grid”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-priority:59;
mso-style-unhide:no;
border:solid black 1.0pt;
mso-border-themecolor:text1;
mso-border-alt:solid black .5pt;
mso-border-themecolor:text1;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-border-insideh:.5pt solid black;
mso-border-insideh-themecolor:text1;
mso-border-insidev:.5pt solid black;
mso-border-insidev-themecolor:text1;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-ansi-language:IN;}

31Kintarō

Kota Oyama, Shizuoka, Jepang

Pada zaman dahulu kala, di pedalaman gunung Ashigara, hiduplah seorang anak yang sehat bernama Kintaro.  Sejak bayi dia sangat kuat, Kintaro merangkak sambil menarik tali yang diikatkan pada gilingan yang terbuat dari batu, dan gilingan dari batu itu pun bergerak.

Teman-teman Kintaro adalah binatang-binatang yang menghuni gunung Ashigara. Apabila Kintaro pergi ke gunung, maka binatang-binatang akan datang berkumpul. Seperti : rusa, kelinci, rubah, monyet, dan tupai. Kintaro setiap hari menghabiskan hari-harinya bermain-main dengan binatang-binatang itu.

“Ayo, kita lomba lari sampai ke gunung.”

“Bersiaap, mulai !”

Hosh…hosh…hosh… untuk lomba laripun, Kintaro yang nomor satu.

“Selanjutnya kita main apa ya?”

“Ayo bertanding sumo.”

“Ya, ayo-ayo”

Mereka menggambar sebuah lingkaran yang besar di tanah dengan menggunakan dahan pohon. Membuat dohyo.

 “Ayo lawan, jangan sampai keluar lingkaran.”

Pada saat sedang asyik bermain dengan para binatang, tiba-tiba,

“Argh…”terdengar suara raungan dari seekor beruang liar yang tiba-tiba saja muncul.

“Kintaro, ayo bertanding sumo melawanku. Balasannya kalau kamu kalah, kamu akan aku jadikan  pelayanku.”

“Tidak apa-apa. Ayo mulai !”

“Kira-kira siapa yang akan menang ya”, kata para binatang.

“Ayo Kintaro, lawan dia !”, seru para binatang dengan cemas. Dan dimulailah pertandingan sumo tersebut.

“Ayo lawan, jangan sampai keluar lingkaran.”

Ini adalah pertandingan jawara sumo gunung Ashigara. Kintaro dengan muka memerah, berusaha dengan keras menjatuhkan beruang. Beruangpun berusaha bertahan dengan kedua kakinya.

“Yak !”, seiring dengan teriakan kemenangan Kintaro beruang pun jatuh terdorong ke luar lingkaran

 “Yah, kalah. Aku mengaku kalah darimu. Mulai sekarang aku akan mendengarkan apapun kata-katamu.” Kata beruang.

“Kalau begitu berhentilah mengganggu dan berbuat kasar pada semua, ya.”

“Ya, aku tidak akan melakukannya lagi.”

Dengan begitu, mereka pun berteman baik dengan beruang.

Pada suatu hari berkatalah musang.

“Kintaro, ayo kita pergi memunguti buah kuri di seberang gunung”

“Ya, ayo kita pergi.”

Para binatang pergi dengan riangnya.Tetapi, ketika sampai di tempat mereka harus menyeberang, ternyata tidak ada jembatan yang menghubungkan sungai. 

“Waduh, bagaimana ini? “ semua mengeluh, dan seketika itu,

“Hei, ayo kita bikin jembatan”, berkata Kintaro

Kemudian semua memagut sebuah pohon yang sangat besar yang ada di dekat situ, dan mencabutnya dengan kedua tangannya.

“Hah..hah…”, kemudian akhirnya,

“srak” bunyi suaranya, mulai tercabut akar dari pohon besar itu. Kintaro dengan segenap kekuatannya, mencabut pohon besar itu sampai ke akar-akarnya.

“Wah, Kintaro hebat ya.”

“Terima kasih, Kintaro.” Semuanya memuji kehebatan Kintaro.

Kintaro kemudian merebahkan pohon besar itu sampai ke tepian sungai di seberang, dan terbentanglah sebuah jembatan kayu bulat yang besar..

“Nah, ini dia. Ayo kita menyeberang.”

Merekapun menyeberangi jembatan untuk pergi memunguti buah kuri. Ternyata peristiwa ini dilihat secara diam-diam oleh seseorang dari tempat persembunyiannya. Seorang pengikut dari samurai hebat ibu kota, yang sedang menyertainya berburu di gunung.

“Ada seorang anak laki-laki yang hebat.”

Samurai  itu terkejut dan berkata pada pengikutnya itu.

“Saya ingin anak laki-laki itu untuk menjadi pelayan saya.”

Akhirnya Kintaro dibawa ke ibu kota, berganti nama menjadi Sakata Kintoki, dan kemudian menjadi seorang samurai yang sangat kuat dan terkenal. Setelah namanya diganti menjadi Sakata Kintoki, ia bertugas di Kyoto, dan menjadi salah satu dari 4 pengawal Yorimitsu yang disebut kelompok Shitennō. Ketiga rekannya yang lain adalah Watanabe no Tsuna, Urabe no Suetake, dan Usui Sadamitsu.

Pada 28 April 990, Kintoki berhasil mengusir oni bernama Shuten Dōji yang tinggal di Gunung Ōe, Provinsi Tamba (sekarang kota Fukuchiyama, Prefektur Kyoto). Shuten Dōji perlu disingkirkan karena masuk ke kota membuat kekacauan. Sewaktu menghadapi Shuten Dōji, Yorimitsu bersama keempat pengawalnya (termasuk Kintoki) menyamar sebagai biksu Yamabushi. Shuten Dōji ditaklukkan dengan sake yang dicampur obat tidur.

Pada 11 Januari 1012, Sakata Kintoki, 55 tahun, meninggal dunia di Mimasaka (sekarang kota Shōō, Prefektur Okayama) akibat panas tinggi. Pada waktu itu, Kintoki sedang dalam perjalanan menuju Kyushu untuk menumpas pemberontak. Penduduk setempat menjadikannya panutan, dan mendirikan sebuah kuil untuknya (sekarang disebut Kuil Kurigara).

 

P.S

 Kelompok Shitennō disebut dalam literatur klasik Konjaku Monogatari yang terbit sekitar 100 tahun setelah wafatnya Minamoto no Yorimitsu. Ketiga rekannya bisa dipastikan memang benar pernah ada, tetapi Sakata Kintoki tidak pernah bisa dibuktikan keberadaannya.

 

 

 

 

·         Unsur Intrisnsik

Tokoh                : Kintaro ( Sakata Kintoki )    : Kuat, bersahabat, baik , suka menolong.

                          Beruang                                 : Sombong

                          Musang                                 : –

                          Shuten Dōji                           : –

                          Yorimitsu                              : –

Tema                  :

Alur                   : Alur maju.

Sudut Pandang  : Orang ketiga serba tau.

Latar                  : Pedalaman gunung Ashigara, seberang gunung, Kota Kyoto.

Amanat              : 1.  Jangan sombong bila memiliki fisik yang kuat.

  2. Bila memiliki kelebihan, gunakan kelebihan tersebut untuk hal

      yang baik

 

·         Unsur Ekstrinsik

Latar belakang   : Pertengahan Periode Heian 

Nilai moral         : Tolong menolong, saling memaafkan.

Nilai budaya      : Budaya Jepang seperti sumo dan samurai.

Nilai religi          : Kepercayaan terhadap dewa / kepercayaan shinto  

 

Isi Pokok

Kutipan

Hikayat ini menceritakan seorang anak bernama Kintaro yang sangat kuat.

Pada zaman dahulu kala, di pedalaman gunung Ashigara, hiduplah seorang anak yang sehat bernama Kintaro.  Sejak bayi dia sangat kuat, Kintaro merangkak sambil menarik tali yang diikatkan pada gilingan yang terbuat dari batu, dan gilingan dari batu itu pun bergerak.

 

 

Sejak kecil Kintaro bermain dengan hewan dihutan, bahkan bermain sumo dengan beruang.

Teman-teman Kintaro adalah binatang-binatang yang menghuni gunung Ashigara. Apabila Kintaro pergi ke gunung, maka binatang-binatang akan datang berkumpul. Seperti : rusa, kelinci, rubah, monyet, dan tupai. 1Kintaro setiap hari menghabiskan hari-harinya bermain-main dengan binatang-binatang itu.

“Ayo, kita lomba lari sampai ke gunung.”

“Bersiaap, mulai !”

Hosh…hosh…hosh… untuk lomba laripun, Kintaro yang nomor satu.

“Selanjutnya kita main apa ya?”

“Ayo bertanding sumo.”

“Ya, ayo-ayo”

Mereka menggambar sebuah lingkaran yang besar di tanah dengan menggunakan dahan pohon. Membuat dohyo.

 “Ayo lawan, jangan sampai keluar lingkaran.”

Pada saat sedang asyik bermain dengan para binatang, tiba-tiba,

“Argh…”terdengar suara raungan dari seekor beruang liar yang tiba-tiba saja muncul.

“Kintaro, ayo bertanding sumo melawanku. Balasannya kalau kamu kalah, kamu akan aku jadikan  pelayanku.”

“Tidak apa-apa. Ayo mulai !”

“Kira-kira siapa yang akan menang ya”, kata para binatang.

“Ayo Kintaro, lawan dia !”, seru para binatang dengan cemas. Dan dimulailah pertandingan sumo tersebut.

 

Kintaro yang bertanding sumo dengan beruang pun menang, lalu mereka menjadi sahabat.

“Ayo lawan, jangan sampai keluar lingkaran.”

Ini adalah pertandingan jawara sumo gunung Ashigara. Kintaro dengan muka memerah, berusaha dengan keras menjatuhkan beruang. Beruangpun berusaha bertahan dengan kedua kakinya.

“Yak !”, seiring dengan teriakan kemenangan Kintaro beruang pun jatuh terdorong ke luar lingkaran

 “Yah, kalah. Aku mengaku kalah darimu. Mulai sekarang aku akan mendengarkan apapun kata-katamu.” Kata beruang.

“Kalau begitu berhentilah mengganggu dan berbuat kasar pada semua, ya.”

“Ya, aku tidak akan melakukannya lagi.”

Dengan begitu, mereka pun berteman baik dengan beruang.

 

Musang mengajak Kintaro mencari buah kuri, namun ditengah jalan jembatan penghubung hilang.

Pada suatu hari berkatalah musang.

“Kintaro, ayo kita pergi memunguti buah kuri di seberang gunung”

“Ya, ayo kita pergi.”

Para binatang pergi dengan riangnya.Tetapi, ketika sampai di tempat mereka harus menyeberang, ternyata tidak ada jembatan yang menghubungkan sungai. 

“Waduh, bagaimana ini? “ semua mengeluh, dan seketika itu,

“Hei, ayo kita bikin jembatan”, berkata Kintaro

Kemudian semua memagut sebuah pohon yang sangat besar yang ada di dekat situ, dan mencabutnya dengan kedua tangannya.

“Hah..hah…”, kemudian akhirnya,

 

Kintaro yang kuat mencabut pohon hingga ke akar untuk menjadi jembatan.

“srak” bunyi suaranya, mulai tercabut akar dari pohon besar itu. Kintaro dengan segenap kekuatannya, mencabut pohon besar itu sampai ke akar-akarnya.

“Wah, Kintaro hebat ya.”

“Terima kasih, Kintaro.” Semuanya memuji kehebatan Kintaro.

Kintaro kemudian merebahkan pohon besar itu sampai ke tepian sungai di seberang, dan terbentanglah sebuah jembatan kayu bulat yang besar..

“Nah, ini dia. Ayo kita menyeberang.”

Merekapun menyeberangi jembatan untuk pergi memunguti buah kuri.

Kekuatan Kintaro diketahui oleh sesorang dan mengajak kintaro ke ibukota. Kintaro pun berganti nama menjadi Sakata Kintoki.

Ternyata peristiwa ini dilihat secara diam-diam oleh seseorang dari tempat persembunyiannya. Seorang pengikut dari samurai hebat ibu kota, yang sedang menyertainya berburu di gunung.

“Ada seorang anak laki-laki yang hebat.”

Samurai  itu terkejut dan berkata pada pengikutnya itu.

“Saya ingin anak laki-laki itu untuk menjadi pelayan saya.”

Akhirnya Kintaro dibawa ke ibu kota, berganti nama menjadi Sakata Kintoki, dan kemudian menjadi seorang samurai yang sangat kuat dan terkenal. Setelah namanya diganti menjadi Sakata Kintoki, ia bertugas di Kyoto, dan menjadi salah satu dari 4 pengawal Yorimitsu yang disebut kelompok Shitennō. Ketiga rekannya yang lain adalah Watanabe no Tsuna, Urabe no Suetake, dan Usui Sadamitsu.

 

Sakata Kintoki (Kintaro) berhasil membunuh oni (iblis) di Gunung Ōe.

Pada 28 April 990, Kintoki berhasil mengusir oni bernama Shuten Dōji yang tinggal di Gunung Ōe, Provinsi Tamba (sekarang kota Fukuchiyama, Prefektur Kyoto). Shuten Dōji perlu disingkirkan karena masuk ke kota membuat kekacauan. Sewaktu menghadapi Shuten Dōji, Yorimitsu bersama keempat pengawalnya (termasuk Kintoki) menyamar sebagai biksu Yamabushi. Shuten Dōji ditaklukkan dengan sake yang dicampur obat tidur

 

Sakata Kintoki (Kintaro) meninggal diumur 55 tahun dalam perjalanan menuju kyushu.

Pada 11 Januari 1012, Sakata Kintoki, 55 tahun, meninggal dunia di Mimasaka (sekarang kota Shōō, Prefektur Okayama) akibat panas tinggi. Pada waktu itu, Kintoki sedang dalam perjalanan menuju Kyushu untuk menumpas pemberontak. Penduduk setempat menjadikannya panutan, dan mendirikan sebuah kuil untuknya (sekarang disebut Kuil Kurigara).

 

 

·         Identifikasi Karakteristik

Kemustahilan

 

No.

Kemustahilan

Kutipan Teks

1.

Bayi sangat kuat dapat menarik gilingan dari batu

Sejak bayi dia sangat kuat, Kintaro merangkak sambil menarik tali yang diikatkan pada gilingan yang terbuat dari batu, dan gilingan dari batu itu pun bergerak.

2.

Bayi dapar bermain sumo dengan beruang dan menang.

 Pada saat sedang asyik bermain dengan para binatang, tiba-tiba,

“Argh…”terdengar suara raungan dari seekor beruang liar yang tiba-tiba saja muncul.

“Kintaro, ayo bertanding sumo melawanku. Balasannya kalau kamu kalah, kamu akan aku jadikan  pelayanku.”

“Tidak apa-apa. Ayo mulai !”

“Kira-kira siapa yang akan menang ya”, kata para binatang.

“Ayo Kintaro, lawan dia !”, seru para binatang dengan cemas. Dan dimulailah pertandingan sumo tersebut.

 

3.

Musang dapat berbicara layaknya manusia1.

Pada suatu hari berkatalah musang.

“Kintaro, ayo kita pergi memunguti buah kuri di seberang gunung”

“Ya, ayo kita pergi.”

 

4.

Bayi dapat mencabut pohon hingga ke akar

“srak” bunyi suaranya, mulai tercabut akar dari pohon besar itu. Kintaro dengan segenap kekuatannya, mencabut pohon besar itu sampai ke akar-akarnya.

 

 

·         Kesaktian

o   Kintaro kecil dapat mengalahkan beruang.

o   Kintaro kecil dapat mencabut pohon hingga ke akar.

Tentang Penulis

Ahmad Aldi

Ahmad Aldi

Tinggalkan Komentar