Tugas Siswa

Laporan Kunjungan ke Rumah Puisi Taufiq Ismail

1
Elfi Rahmani
Ditulis Oleh Elfi Rahmani

Laporan Kunjungan ke Rumah Puisi Taufiq Ismail

 

·      Hari/ Tanggal    : Jum’at/ 28 april 2017

·      Tempat              : rumah puisi Taufiq Ismail

·      Waktu               : 09.30 s/d 11.30

·      Peserta               : X.Mipa 7

·      Pembimbing      : Rita Anggraini Sp.d

 

ü  Kegiatan 1 mendengarkan ceramah/ informasi

·      Topik

1.    Sejarah rumah puisi Taufiq Ismail

2.    Kegiatan yang ada di rumah puisi Taufiq Ismail

3.    Biografi Taufiq Ismail

4.    Tips untuk membuat suatu karangan

 

·      Narasumber & Identitasnya

1.    Nama            : Fitra Mulia

2.    Jabatan         : Manajer rumah puisi Taufiq Ismail

 

·      Isi Informasi

1.    Sejarah rumah puisi Taufiq Ismail

Rumah puisi Taufiq Ismail, didirikan pada tanggal 19 Desember 2008. Didirikan di Nagari Aia Angek kabupaten Tanah datar. Kediaman Taufiq Ismail pada saat ini adalah di Jakarta.

Latar belakang didirikannya Rumah Puisi ini, berawal dari sebuah kisah. Suatu hari, istri Taufiq Ismail, melihat ribuan puisi yang sudah terdapat di rumahnya. Lalu sang istri bertanya, “ Uda, kalau dipanggil yang Maha Kuasa mau diapakan buku puisi ini?”. Kemudian Taufiq Ismail menjawab, “ Disumbangkan saja ke Habie Yasin di Jakarta.” Mendengar pernyataan tersebut, istrinya pun menimpali dan menyarankan untuk membangun sebuah rumah puisi di kampungnya sendiri. Kampung istrinya yaitu di Gunung Singgalang Pandai Sikek. Ternyata, mencari tanah untuk didirikannya rumah puisi tidak mudah. Akhirnya beliau bisa mendapatkan lokasi saat ini.

Rumah Puisi telah mulai pembangunannya, 20 Februari 2008, dengan modal pertama dari perolehan hadiah sastra Habibie Award 2007, sekitar Rp200 juta setelah dipotong pajak. Lokasinya di kaki Gunung Merapi dan Gunung Singgalang, di Nagari Aia Angek, Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat. Lokasinya antara Kota Padangpanjang dan Kota Bukittinggi, yang dikelilingi keindahan alam yang menawan. Sehingga, pada 19 Desember 2008, berdirilah Rumah Puisi Taufiq Ismail.

Motivasi Taufiq Ismail yaitu, diantaranya Alqur’anul karim dan Surah Al-Alaq 96: 1-5. Dengan motivasi tersebut, beliau dapat menggapai impiannya. Untuk melaksanakan perintah Allah Swt.

 

2.    Kegiatan yang ada di rumah puisi Taufiq Ismail

·      Sebagai perpustakaan atau rumah baca buku koleksi Taufiq Ismail.

Disini, terdapat lebih kurang 8 ribu buku.

·       Sebagai tempat pelatihan penulisan.

Contohnya karya mading yang terpajang ditempat ini.

·      Di Rumah puisi ini, juga dilakukan kegiatan sanggar dalam satu kali seminggu.

Disini ada juga guru musik yaitu Muhammad Jujur.

·      Pelatihan guru bahasa dan Sastra Indonesia.

·      Pertemuan antar sastrawan.

Di Rumah Puisi Taufiq Ismail ini, juga telah mengundang beberapa sastrawan dari kota lain.

 

3.    Biografi Taufiq Ismail

Taufiq Ismail lahir dari pasangan A. Gaffar Ismail (1911-1998) asal Banuhampu, Agam dan Sitti Nur Muhammad Nur (1914-1982) asal Pandai Sikek, Tanah Datar, Sumatera Barat. Ayahnya adalah seorang ulama dan pendiri PERMI. Ia menghabiskan masa SD di Solo, Semarang, dan Yogyakarta, SMP di Bukittinggi, dan SMA di Pekalongan. Taufiq tumbuh dalam keluarga guru dan wartawanyang suka membaca. Ia telah bercita-cita menjadi sastrawan sejak masih SMA. Dengan pilihan sendiri, ia menjadi dokter hewan dan ahli peternakan karena ingin memiliki bisnis peternakan guna menafkahi cita-cita kesastraannya. Ia tamat FKHP-UI Bogor pada1963 tetapi gagal punya usaha ternak yang dulu direncanakannya di sebuah pulau di Selat Malaka.

Pada tahun 1956–1957 ia memenangkan beasiswa American Field Service Interntional School guna mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, AS, angkatan pertama dari Indonesia.

Semasa mahasiswa Taufiq Ismail aktif dalam berbagai kegiatan. Tercatat, ia pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa FKHP UI (1960–1961) dan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa (1960–1962). Ia pernah mengajar sebagai guru bahasa di SMA Regina Pacis, Bogor (1963-1965), guru Ilmu Pengantar Peternakan di Pesantren Darul Fallah, Ciampea (1962), dan asisten dosen Manajemen Peternakan Fakultas Peternakan, Universitas Indonesia Bogor dan IPB (1961-1964). Karena menandatangani Manifes Kebudayaan, yang dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno, ia batal dikirim untuk studi lanjutan ke Universitas Kentucky dan Florida. Ia kemudian dipecat sebagai pegawai negeri pada tahun 1964.

Taufiq menjadi kolumnis Harian KAMI pada tahun 1966-1970. Kemudian, Taufiq bersama Mochtar Lubis, P.K. Oyong, Zaini, dan Arief Budiman mendirikan Yayasan Indonesia, yang kemudian juga melahirkan majalah sastra Horison (1966). Sampai sekarang ini ia memimpin majalah itu.

Atas kerja sama dengan  musisi sejak 1974, terutama dengan Himpunan Musik Bimbo (Hardjakusumah bersaudara), Chrisye, Ian Antono, dan Ucok Harahap, Taufiq telah menghasilkan sebanyak 75 lagu.

Taufiq Ismail menikah dengan Esiyati Yatim pada tahun 1971 dan dikaruniai seorang anak laki-laki, Bram Ismail. Bersama keluarga ia tinggal di Jalan Utan Kayu Raya 66-E, Jakarta 13120.

 

 

4.    Tips Untuk Membuat Suatu Karangan

·      Mempunyai buku saku.

·      Tulis 2 hal

1)        Pikiran

2)        Perasaan

 

·      Pertanyaan

1.      Redha : Bagaimana cara meningkatkan minat baca remaja saat ini?

Dimulai dengan membiasakan diri sendiri terlebih dahulu lalu mempengaruhi orang- orang di sekitar untuk terbiasa membaca.

2.      Shahibul : Karya apa saja yang paling banyak ditulis oleh bapak Taufiq? Dan apa puisi yang paling terkenal?

Sebagian besar adalah karangan puisi. Karya yang paling terkenal adalah Sajadah Panjang.

3.      Irfan : Kenapa saat lulusan SMA bapak Taufiq tidak mengambil jurusan sastra?

Karena beliau ingin membiayai hobinya menulis puisi dengan hasil berternak.

 

·      Kesimpulan 

Taufiq Ismail adalah seorang penulis yang patut dicontoh. Karena ketekunan dan kegigihannya, beliau dapat mencapai segala impiannya. Dan generasi muda saat ini juga harus meningkatkan budaya baca. Kita juga harus bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

 

Tentang Penulis

Elfi Rahmani

Elfi Rahmani

Tinggalkan Komentar