Teknologi

Memupus Keraguan, Menghadirkan Kejutan – Ponselmu.com

1501582991_memupus-keraguan-menghadirkan-kejutan-ponselmu-com.jpg
Arias Bell
Ditulis Oleh Arias Bell

Lebih baik memilih Samsung Galaxy S8 atau Galaxy S8+? Karena dua alasan, penulis alias HSW yang saat itu sama sekali belum pernah menyentuh dua ponsel tersebut memilih Galaxy S8. Alasannya, pertama, Galaxy S8+ dibekali layar 6,2 inci yang diduga ekstralebar. Lha Galaxy S8 yang berlayar 5,8 inci pun mungkin masih terlalu bongsor.

Kedua, selain ukuran layar dan kapasitas baterai, spesifikasi Galaxy S8 sama dengan Galaxy S8+. Padahal, harga jual Galaxy S8+ lebih mahal Rp 1,5 juta. Sayang mengeluarkan dana tambahan sebanyak itu hanya demi mendapatkan layar dan kapasitas baterai lebih besar.

Sambil menanti Galaxy S8 tiba di genggaman, satu per satu keraguan menerpa HSW. Apakah ponsel itu tidak terlalu bongsor? Ketika ponsel digenggam, akankah jari tangan tak sengaja menyentuh aneka ikon di ponsel? Terakhir, layar lengkung Galaxy S8 apakah tidak rawan pecah saat terbentur atau terjatuh?

Tatkala HSW kemudian mulai mencicipi Galaxy S8, ponsel itu terbukti sukses memupus aneka keraguan. Ponsel itu sama sekali tidak terasa terlalu bongsor. Dengan aspek rasio 18,5:9, layar Super AMOLED 5,8 inci beresolusi Quad HD+ 2.960 x 1.440 piksel plus Corning Gorilla Glass 5 ala Galaxy S8 tak membuat bodi ponsel superlebar. Ponsel masih sangat nyaman digenggam, bahkan bagi HSW justru agak kurang lebar.

Kurang lebarnya ponsel itu, dipadu lengkungan layar di sisi kiri-kanan dan permukaan belakang yang berbahan baca, memunculkan konsekuensi baru. Galaxy S8 terasa licin dan rawan terpeleset kala digenggam. Solusinya, HSW memasangkan jelly case yang agak tebal. Ponsel spontan terasa lebih lebar dan kesat. Beres!

Berlanjut ke poin keraguan kedua. Ketika ponsel digenggam, akankah jari tangan tak sengaja menyentuh aneka ikon di ponsel? Lagi-lagi Galaxy S8 berhasil menghapus keraguan. Selama menggunakan ponsel itu, jari HSW yang bersentuhan dengan tepi layar lengkung tidak pernah menekan ikon aplikasi tanpa sengaja. Aman!

Hanya poin keraguan ketiga “apakah layar lengkung Galaxy S8 tidak rawan pecah saat terbentur atau terjatuh?” yang sampai sekarang belum diketahui jawabannya. HSW belum bernyali iseng menjatuhkan ponsel yang harga ritel resminya dipatok Rp 10,499 juta itu.

Galaxy S8 memanfaatkan prosesor delapan inti (octa core) Samsung Exynos 8895 yang terdiri atas empat inti berkecepatan 2,3 GHz dan empat inti 1,7 GHz. IP68, Wi-Fi, bluetooth, NFC, GPS, RAM 4 GB, dan ROM 64 GB merupakan sebagian spesifikasi lain ponsel itu. Saat ponsel baru diaktifkan, sisa memori internal mencapai 52,9 GB.

Ponsel dengan konektor charger USB tipe C itu menganut selot kartu SIM hybrid. Pengguna wajib memilih ingin menyelipkan sepasang kartu nano SIM atau satu nano SIM dan satu kartu microSD. Kalau pengguna memasangkan dua nano SIM, keduanya dapat siaga bersamaan. Satu nomor leluasa masuk ke jaringan 4G LTE, satu nomor lainnya masih bisa menduduki jaringan 3G.

Untuk mengaktifkan layar yang terkunci, pengguna bisa memanfaatkan sensor sidik jari, pendeteksi wajah (face recognition), maupun iris scanner. HSW paling gemar memanfaatkan pendeteksi wajah karena dua cara yang lain terasa kurang nyaman.

Asal tahu, sensor sidik jari Galaxy S8 diletakkan di sisi kanan kamera utama. Penempatan yang tak lazim itu membuat HSW berkali-kali salah menyentuh lensa kamera saat akan mengakses sensor sidik jari. Selain gagal membuka layar, lensa kamera utama lama kelamaan menjadi kotor.

Iris scanner yang terlihat canggih dan praktis realitanya tidak demikian. Buat HSW yang sehari-hari berkacamata, pemindai iris mata itu sangat menjengkelkan. Kecepatan maupun tingkat keberhasilannya relatif rendah. Kondisinya akan bertolak belakang kalau pengguna tidak berkacamata.

Sementara itu, ketersediaan pemindai wajah terasa amat bermanfaat. Cukup setor muka dengan menatap layar Galaxy S8, layar yang terkunci bakal terbuka. Aktivitas itu tetap bisa dilakukan walaupun HSW berada di lokasi yang remang-remang. Mungkin kebetulan semata, dua kali HSW sukses menipu pemindai tersebut menggunakan foto diri sendiri yang ditampilkan di layar Xiaomi Mi 6.

Fitur baru lain yang disertakan di Galaxy S8 adalah asisten pintar Bixby. Salah satu kemampuannya adalah mengenali suatu objek, lalu memberikan informasi yang berhubungan dengan objek tersebut kepada pengguna.

Dalam uji coba yang HSW lakukan, ternyata Bixby masih “perlu sekolah”. Saat disodori foto Samsung Galaxy S8, contohnya, Bixby malahan mengenalinya sebagai ponsel Xiaomi Mi 4c. Ha… ha… ha….

Versi HSW, hal paling memuaskan dari Galaxy S8 adalah kamera. Aktivitas berurutan mulai dari pemfokusan, menjepret objek, sampai siap bidik lagi tergolong cepat. Foto yang dihasilkan pun layak diberi acungan dua jempol. Jempol tegak beneran, bukan jempol terbalik.

Di atas kertas, spesifikasi kamera Galaxy S8 memang menggiurkan. Kamera utamanya dibekali lensa dengan bukaan f/1,7. Kamera dengan fokus otomatis dan lampu kilat itu siap menghasilkan foto beresolusi 12 megapiksel maupun klip video UHD 3.840 x 2.160 piksel.

Tersedia beragam mode pemotretan, antara lain, pro, panorama, selective focus, dan food. Pada mode pro, pengguna leluasa mengatur ISO 50-800, kecepatan rana 1/24.000-10 detik, tone warna, pemfokusan, maupun white balance. Kalau ingin menghasilkan foto yang unik, pengguna bisa pula memanfaatkan fitur stiker.

Kamera depan Galaxy S8 tak kalah menarik. Ia dibekali lensa berbukaan f/1,7 dan fitur fokus otomatis. Kemampuan maksimalnya memproduksi foto beresolusi delapan megapiksel dan klip video QHD 2.560 x 1.440 piksel.

Ehmmm… apa lagi ya. Oh ini, Galaxy S8 sukses menghadirkan dua kejutan kepada HSW. Pertama, ponsel berdimensi fisik 148,9 x 68,1 x 8,0 milimeter dan 155 gram itu memanfaatkan chipset berteknologi 10 nanometer yang diketahui hemat baterai.

Awalnya HSW yakin baterai tanam 3.000 mAh yang digunakan di Galaxy S8 sanggup memberikan pasokan daya selama minimal seharian penuh. Mulai pagi sampai menjelang HSW tidur.

Kenyataannya tidak demikian. Dengan perilaku pemakaian ala HSW, baterai Galaxy S8 cuma sanggup bertahan paling lama 12 jam. Tak jarang ponsel sudah padam saat baru digunakan sekitar sepuluh jam. Padahal, demi menghemat konsumsi daya, HSW telah menurunkan resolusi layar.

Kejutan kedua, sebagai ponsel premium, ternyata Galaxy S8 masih bisa tersendat alias nge-lag saat digunakan. Kondisi tersebut paling sering dialami kala ponsel dipakai mengakses Facebook. Konyolnya hal itu juga terjadi kala ponsel diajak melakukan aktivitas yang sepele. Misalnya, masuk ke menu settings.

Kalau dirangkum, desain yang cantik dan kamera yang prima menjadi kelebihan utama ponsel bersistem operasi Android 7.0 Nougat itu. Kekurangannya kebetulan lebih banyak. Mulai dari baterai boros, masih bisa tersendat, posisi sensor sidik jari tidak ergonomis, hingga bodi yang terasa “kurang melekat” di genggaman.

Apakah Samsung Galaxy S8 layak dibeli? Anda yang kelebihan dana sekaligus menginginkan ponsel komplet pantas meminangnya. Kapan lagi memiliki ponsel mahal, bermerek terkenal, mempunyai layanan servis resmi yang bagus (walaupun masih kalah dibandingkan LG), berdesain cantik, berkamera bagus, sekaligus boros baterai dan masih bisa nge-lag. Ponsel mahal biasanya sudah bebas lag, bukan? Samsung Galaxy S8 berarti ponsel luar biasa.

***

Inilah contoh foto yang dihasilkan Samsung Galaxy S8. Pemotretan dilakukan memakai mode otomatis, kecuali disebutkan khusus. Lampu kilat padam. Olah digital yang dilakukan hanya resize foto dan kompresi ukuran file.

Menjajal mode selective focus.

Fokus ke bagian depan.

Kini difokuskan ke latar belakang.

Fokus ke gelas.

Sekarang difokuskan ke orang di meja belakang.

Lima foto di bawah ini dijepret menggunakan kamera depan.

Mencoba aneka stiker unik di kamera Samsung Galaxy S8.

***

Screen capture Antutu Benchmark, Sensor Box for Android, dan kondisi awal RAM.

Source link

قالب وردپرس

Tentang Penulis

Arias Bell

Arias Bell

Tinggalkan Komentar