Tugas Siswa

Menganalisis Puisi “Dengan Puisi, Aku” Karya Taufiq Ismail

5
Elfi Rahmani
Ditulis Oleh Elfi Rahmani

Menganalisis Puisi “Dengan Puisi, Aku”

Karya Taufiq Ismail

 

DENGAN PUISI, AKU

Dengan puisi aku bernyanyi

Sampai senja umurku nanti

Dengan puisi aku bercinta

Berbatas cakrawala

Dengan puisi aku mengenang

Keabadian Yang Akan Datang

Dengan puisi aku menangis

Jarum waktu bila kejam mengiris

Dengan puisi aku mengutuk

Nafas zaman yang busuk

Dengan puisi aku berdoa

Perkenankanlah kiranya

 

 

1.    Makna puisi keseluruhan

Puisi ini menceritakan tentang kegunaan puisi. Puisi bukan sekedar karya seni tetap ia adalah curahan hati seorang penulis. Saat bahagia, sedih, berbunga-bunga dan sampai mengutuk. Puisi adalah cara yang elegan untuk menyampaikan kata hati. Dan juga tentang semua peristiwa yang terjadi sehari-hari pada setiap manusia. Karena itulah manusia harus dihargai.

 

2.    Unsur instrinsik puisi

*   Tema :  kemanusiaan. Melalui peristiwaatau tragedi yang digambarkan penyair dalam puisi ini berusaha meyakinkan ketinggian martabat manusia, oleh kerena itu manusia harus dihargai.

Kutipan :” Dengan puisi aku mengutuk

  Nafas zaman yang busuk

  Dengan puisi aku berdoa

  Perkenankanlah kiranya”

 

*   Makna kias

“Dengan puisi aku menangis

Jarum waktu bila kejam meringis”

Dalam puisi tersebut makna kias terdapat pada kata “meringis”, yang dapat diartikan menangis.

 

*   Nada dan Suasana Puisi:

Dalam puisi ini, penyair memberikan nada yang kharismatik. 

Kutipan : “Dengan puisi aku bernyanyi

   Sampai senja umurku nanti”

 

*    Perasaan dalam puisi 

Puisi mewakilkan perasaan penyair dalam menjiwai puisi.

 

*   Dalam puisi ini terdapat pengimajian visual, menampilkan apa yang di gambarkan penyair lebih jelas dan dapat terlihat oleh pembaca.

Kutipan : “Dengan puisi aku menangis

   Jarum waktu bila kejam mengiris

   Dengan puisi aku mengutuk

   Nafas zaman yang busuk”

 

*   Amanat puisi

Amanat yang terkandung dalam puisi tersebut adalah :

  1. Meskipun usia terus berlanjut, tetapi jangan pernah berhenti untuk berkarya.
  2. Menyayangi sekitar
  3. Renungkanlah kehidupan yang telah berlalu, dan renungkan pula kehidupan yang akan datang , agar menjadi lebih baik lagi .
  4. Pertahankanlah norma dan etika, sekalipun zaman sudah rusak .
  5. Teruslah berdoa agar semua berubah kearah yang lebih baik.

 

*   Dalam puisi karya Taufiq Ismail ini, mempunyai persamaan bunyi yang harmonitis.

 

3.    Unsur ekstrinsik

*   Unsur biografi

Taufiq Ismail lahir dari pasangan A. Gaffar Ismail (1911-1998) asal Banuhampu, Agam dan Sitti Nur Muhammad Nur (1914-1982) asal Pandai Sikek, Tanah Datar, Sumatera Barat. Ayahnya adalah seorang ulama dan pendiri PERMI. Ia menghabiskan masa SD di Solo, Semarang, dan Yogyakarta, SMP di Bukittinggi, dan SMA di Pekalongan. Taufiq tumbuh dalam keluarga guru dan wartawanyang suka membaca. Ia telah bercita-cita menjadi sastrawan sejak masih SMA. Dengan pilihan sendiri, ia menjadi dokter hewan dan ahli peternakan karena ingin memiliki bisnis peternakan guna menafkahi cita-cita kesastraannya. Ia tamat FKHP-UI Bogor pada1963 tetapi gagal punya usaha ternak yang dulu direncanakannya di sebuah pulau di Selat Malaka.

Pada tahun 1956–1957 ia memenangkan beasiswa American Field Service Interntional School guna mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, AS, angkatan pertama dari Indonesia.

Semasa mahasiswa Taufiq Ismail aktif dalam berbagai kegiatan. Tercatat, ia pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa FKHP UI (1960–1961) dan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa (1960–1962). Ia pernah mengajar sebagai guru bahasa di SMA Regina Pacis, Bogor (1963-1965), guru Ilmu Pengantar Peternakan di Pesantren Darul Fallah, Ciampea (1962), dan asisten dosen Manajemen Peternakan Fakultas Peternakan, Universitas Indonesia Bogor dan IPB (1961-1964). Karena menandatangani Manifes Kebudayaan, yang dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno, ia batal dikirim untuk studi lanjutan ke Universitas Kentucky dan Florida. Ia kemudian dipecat sebagai pegawai negeri pada tahun 1964.

Taufiq menjadi kolumnis Harian KAMI pada tahun 1966-1970. Kemudian, Taufiq bersama Mochtar Lubis, P.K. Oyong, Zaini, dan Arief Budiman mendirikan Yayasan Indonesia, yang kemudian juga melahirkan majalah sastra Horison (1966). Sampai sekarang ini ia memimpin majalah itu.

 

Atas kerja sama dengan  musisi sejak 1974, terutama dengan Himpunan Musik Bimbo (Hardjakusumah bersaudara), Chrisye, Ian Antono, dan Ucok Harahap, Taufiq telah menghasilkan sebanyak 75 lagu.

Taufiq Ismail menikah dengan Esiyati Yatim pada tahun 1971 dan dikaruniai seorang anak laki-laki, Bram Ismail. Bersama keluarga ia tinggal di Jalan Utan Kayu Raya 66-E, Jakarta 13120.

*   Puisi tersebut memiliki unsur kemanusiaan yang kental. Dalam puisi tersebut diceritakan bahwa seorang penulis puisi sangat bertumpu pada kejadian atau peristiwa sehari-hari. penyair dalam puisi ini berusaha meyakinkan ketinggian martabat manusia, oleh kerena itu manusia harus dihargai.

Tentang Penulis

Elfi Rahmani

Elfi Rahmani

Tinggalkan Komentar