Tugas Siswa

Menganalisis Tesk Anekdot Tentang Mengukur kedalaman Banjir dengan Badan

images
Denia Putri fajrina
Ditulis Oleh denia putri fajrina

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

imagesKelompok 5 X MIPA 7

Albert Aprillio Syukur

Chaca Marshanda

Denia Putri Fajrina

Elvi Ramadhani

Ismi Hilda

Mengukur Kedalaman Banjir Memakai Badan

1. Banjir merupakan fenomena alam yang kerap terjadi di beberapa kota besar di Indonesia khususnya                                                                                      ibu kota tercinta, Jakarta. Pada tahun 2015 kemarin menjadi berita utama di berbagai media berita.

2.  Banyak sekali yang meliput mengenai betapa memperihatikannya kondisi area yang terkena banjir.

3.  Namun dalam peliputan berita, para jurnalis kerap mengalami kesulitan dalam melakukan pelaporan     banjir besar yang melanda, karena orang Jakarta tidak mengukur dengan satuan ‘centimeter’, ‘meter’, dan ‘inchi. Tapi menggunakan ukuran sendiri, yaitu dengan ukuran ‘mata kaki’, ‘dengkul’, ‘betis’, ‘pinggang’, bahkan ‘dada’!.  

4. Apalah daya si jurnalis tersebut, mau tidak mau ia harus tetap melaporkan berita sesuai pemikirannya.  

 5. Akhirnya liputan mengenai banjir tetap bisa terlaksana dengan baik dengan menggunakan ukuran centimeter.

           Analisi struktur teks anekdot di atas adalah :

1.         Abstraksi: Pembuka cerita ( paragraf ke-1)

2.          Orientasi: situasi awal cerita (paragraf ke-1 kalimat ke-3) 

3.           Krisis: bagian konflik cerita (paragraf ke-3) 

4.           Reaksi: tanggapan tokoh terhadap konflik (paragraf ke-4 kalimat ke-1)

5.          Koda: penutup cerita (paragraf ke-4 kalimat ke-2)

 

 

Menganalisis ciri kebahasaan teks anekdot :

1.       Kalimat sindiran yang diungkapkan dengan pengandaian, perbandingan, dan lawan kata atau antonim.

Contohnya pada cerita di atas:

para jurnalis kerap mengalami kesulitan dalam melakukan pelaporan  banjir besar yang melanda, karena orang Jakarta tidak mengukur dengan satuan ‘centimeter’, ‘meter’, dan ‘inchi’. Tapi menggunakan ukuran sendiri, yaitu dengan ukuran ‘mata kaki’, ‘dengkul’, ‘betis’, ‘pinggang’, bahkan ‘dada’!.   (perbandingan)

2.       Konjungsi sebab-akibat  yaitu karena,maka,oleh sebab itu.

Contohnya pada cerita di atas :

karena orang Jakarta tidak mengukur dengan satuan ‘centimeter’, ‘meter’, dan ‘inchi                   

 

3.       Kalimat yang menyatakan ajaran moral/pesan kebaikan

Contonya pada cerita di atas:

Akhirnya liputan mengenai banjir tetap bisa terlaksana dengan baik dengan menggunakan ukuran centimeter.

 

Tentang Penulis

Denia Putri fajrina

denia putri fajrina

Tinggalkan Komentar