Tugas Siswa

Mengarang Puisi

tumblr_nen7ayaIBt1qiq56ao2_500
Novia Dwi Rahmawati
Ditulis Oleh Novia Dwi Rahmawati

Berbeda

Karya Novia Dwi Rahmawati

 

Kau pohon durian

Aku pohon pisang

Kita tumbuh di ladang yang sama

Batangmu besar

Buahmu menawan

Kau selalu dijaga jika berputik

Buahmu selalu dinanti

Tak seorangpun melewatkanmu,

bahkan rela berdosa

Selalu membangga dan dibangga

Sedangkan aku?

Remehan makananku

Parang israilku

Aku hancur jika kau jatuh

Benar

 Kita memang berbeda

Aku tak semalang dirimu

yang ditinggal buah tak sudah

Aku tak semalang dirimu

yang ditinggal buah demi angin

 

Makna puisi di atas adalah

Seseorang yang kesal dikarenakan ia sering dikucilkan dan bahkan dibuli oleh guru dan teman-temannya. Padahal sebenarnya mereka itu sama, sama-sama bersekolah di tempat yang sama dan bahkan belajar di kelas yang sama. Si pohon pisang yang dimaksud adalah siswa yang kurang pintar sedangkan pohon durian adalah siswa yang pintar. Siswa yang pintar tersebut sangat membangga-banggakan dirinya danselalu di bangga-banggakan oleh gurunya, lain hal nya dengan siswa yang kurang pintar tersebut yang apapun yang dilakukannya pasti ada saja kesalahan. Jelas sekali gurunya membeda bedakan siswanya. Hal ini membuat si pohon pisang merasa kesal tapi dia yakin ada kelebihan dari dirinya yang tidak dimiliki oleh orang yang selalu meremehkannya.

Menganalisis unsur intrisik puisi

a. Unsur tema

Tema puisi di atas adalah Amarah. Karena seseorang yang melampiaskan kekesalannya kepada orang yang selalu meremehkannya. Seperti pada kutipan kalimat ” Remehan makananku”

b. Unsur suasana atau latar

Suasana dalam puisi tersebut sangat panas karena di dalam puisi tersebut berisi kemarahan yang sangat menegangkan. Seperti pada kutipan kalimat ” Kau selalu membangga dan dibangga” dan didukung dengan kutipan kaliamat “Remehan makananku”

c. Unsur imaji

Gambaran atau makna pada puisi tersebut bisa kita dapati dengan membaca atau mendengarnya saja. Seperti salah satu kutipan kalimatnya yaitu ” Remehan makananku” yang artinya adalah dia selalu diremehkan oleh seseorang dan selalu dianggap rendah.

d. Unsur simbol atau lambang

Dalam puisi tersebut ada terdapat beberapa kalimat yang merupakan simbol atau lambang, diantaranya :

1. Kita tumbuh di ladang yang sama

2. Remehan makananku

3. Ditinggal buah tak sudah

4. Ditinggal buah demi angin

e. Unsur musikalitas puisi

Jika membaca puisi di atas sebaiknya kita menggunakan nada yang keras dan mimik wajah yang marah. Karena tema dari puisi tersebut adalah amarah. Salah satu contoh kutipan yang mendukung adalah ” Kau selalu bangga dan dibangga”

f. Unsur gaya bahasa

Gaya bahada yang digunakan pada puisi diatas cukup menarik dikarenakan penulis menggunakan bahasa zaman sekarang ditambah lagi pada puisi tersebut banyak menggunakan simbol atau lambang yang menarik.

Contoh kalimatnya :

1. Remehan makananku

2. Parang israilku

3. Aku hancur jika kau jatuh

4. Ditinggal buah tak sudah

5. Ditinggal buah demi angin

g. Amanat

Amanat yang disampaikan pada puisi di atas adalah jangan membeda-bedakan antara orang yang pintar dan yang kurang pintar karena di balik kekurangan pastinya ada kelebihan.

 

Menganalisis unsur ektrisik puisi

a. Unsur biografi

Puisi di atas saya tulis karena saya prihatin kepada teman-teman yang sering di buli oleh temannya bahkan gurunya dan dikarenakan saya juga pernah merasakan hal yang sama dulunya. Puisi ini saya buat agar guru dan teman-teman tidak lagi membeda-bedakan yang kurang pintar dengan yang pintar karena dibalik kekurangan pasti ada kelebihan.

b. Unsur nilai

 Nilai yang terkandung pada puisi di atas adalah nilai sosial karena ini menyangkut dengan sikap dan perilaku beberapa orang di sekolah.

c. Unsur kemasyarakatan

Dalam puisi di atas terdapat banyak sekali kalimat yang bermakna kemarahan dan ketidakadilan, seperti pada kutipan kalimat ” Aku hancur jika kau jatuh” dan kutipan kalimat ” Selalu membangga dan dibangga”. Jadi puisi ini dibuat dikarenakan keprihatinan pengarang kepada teman-temannya yang sering dibuli dan keprihatinan pada dirinya sendiri.

Tentang Penulis

Novia Dwi Rahmawati

Novia Dwi Rahmawati

Tinggalkan Komentar