Tugas Siswa

Merubah Hikayat Menjadi Cerpen By Fadhli Fathoni

buya hamka
Fadhli Fathoni
Ditulis Oleh Fadhli Fathoni

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

SEORANG KAKEK DAN SEEKOR ULAR

     Disebuah desa, ada seorang kakek yang cukup disegani. Dia dikenal alim dan berotot kuat.Ia punya banyak hal yang menyebabkannya tetap mampu menjaga potensi itu.

Suatu hari, ia sedang duduk di tempat kerjanya dengan menghisap sebatang rokok dengan nikmatnya. Tiba-tiba seekor ular besar menghampirinya, dengan berkata.“kek, kakek kan terkenal suka menolong,tolonglah saya selamatkanlah saya agar tidak dibunuh oleh laki-laki yang sedang mengejar saya. Ia pasti akan membunuh saya jika menangkap saya. Tentunya kama baik sekali jika mau membuka mulut lebar-lebar supaya saya bisa bersembunyi didalamnya. Saya mohon kabulkanlah permintaan saya ini.” Kakek pun meminta ular untuk bersumpah atas nama Allah.

Usai ular itu mengucapkan sumpahnya kakek pun membuka mulutnya sekira-kira dapat untuk ular itu masuk. Setelah itu datanglah seorang pria dengan tongkat di tangannya. Ia menanyakan keberadaan ular yang hendak dibunuhnya itu. Kakek pun mengaku bahwa ia tak melihat ular yang ditanyakan. Setelah pria itu berada agak jauh, kakek lalu berbicara pada ular, “Kini kamu aman,keluarlah dari mulutku,agar aku dapat pergi sekarang.”

Ular itu hanya mengeluarkan sedikit kepalanya lalu berkata “ Sekarang kuberi kamu dua pilihan, terserah kamu mau pilih yang mana,mau ku makan hatimu atau kumakan jantungmu? Keduanya sama membuatmu sekarat.” Kontak ular itu mengancam.

“La haula wa la quwwata illa billahil’aliyyil azhim. Sejahat apa pun kamu, tentu kamu belum lupa dengan sambutanku yang bersahabat. Sebelum kamu membunuhku, izinkan aku pergi kesuatu tempat yang lapang. Disana ada sebatang pohon tempat aku biasa berteduh, aku ingin mati disana.” Ular pun mengabulkan permintaannya.

Setelah sampai dan bernaung dibawah pohon yang dituju,kakek berkata pada sang ular, “Silhkan lakukan keinginanmu,bunuhlah aku seperti apa yang kamu inginkan. Tiba-tiba kakek mendengar suara yang merdu tertuju padanya.“Cobalah engkau pandang pohon ini,Ambil daunnya beberapa lembar lalu maknlah, maka Allah senantiasa membantumu.”

Anjuran itu kemudian ia amalkan dengan baik sehingga ketika keluar dari mulutnya ular itu telah menjadi bangkai. Maka bebas dan selamatlah kakek itu dari bahaya musuh yang mengancam nyawanya.

Tentang Penulis

Fadhli Fathoni

Fadhli Fathoni

Tinggalkan Komentar