Lain-Lain

Murah, Mobil dan Pisau Jadi Senjata Baru Para Teroris

image-af917281f4fd860fc2e451a6674e2515_600x400.jpg
Admin
Ditulis Oleh

Kota London, Inggris, kembali menjadi target terorisme. Ada dua tragedi yang terjadi di dua lokasi yang saling berdekatan pada Sabtu malam waktu setempat (4/5). Pertama, di Jembatan London. Kedua, di Borough Market. Akibatnya, ada tujuh orang tewas dan 48 orang terluka di mana 21 di antaranya dalam kondisi kritis. Kelompok teroris ISIS mengklaim diri sebagai pelaku di balik aksi teror tersebut. 

Serangan terbaru di London memiliki pola serupa dengan sejumlah serangan sebelumnya.

Mantan Kepala Unit Reaksi Cepat di Kepolisian Metropolitan London, Brian Dillon berkata kepada NBC News bahwa ada persamaan pola dalam sejumlah serangan teroris yang terjadi di Eropa dalam beberapa waktu belakangan ini.

Semua serangan itu dilakukan dengan menggunakan senjata yang tidak biasa dipakai oleh para teroris. Senjata yang ia maksud antara lain mobil untuk menabrak pejalan kaki dan pisau untuk menusuk orang-orang secara acak. Baik mobil maupun pisau tak hanya murah, tapi juga mudah didapat.

Kekerasan tidak manusiawi yang digunakan dalam serangan ini (di London) konsisten dengan gambaran ancaman terbaru di Inggris. Para teroris sengaja didorong untuk memanfaatkan alat-alat yang sangat mudah dijangkau seperti kendaraan dan pisau. Mereka tahu bahwa mereka bisa menyebabkan kekerasan keji dan publisitas global dengan (metode) yang tidak rumit.

Baca Juga: Usai Bom Manchester, Pria Muslim Ini Tawarkan Pelukan Gratis

Metode seperti ini sulit dideteksi, apalagi dihentikan.

NBC News juga mewawancarai Shiraz Maher. Ia adalah peneliti senior dari International Center for the Study of Radicalization di King’s College, London. “Menyewa sebuah van sederhana dan mengumpulkan beberapa teman yang sepemikiran denganmu untuk melakukan serangan semacam ini pada dasarnya tidak mungkin dihentikan,” ujarnya.

Menurut seorang Analis Keamanan, Duncan Gardham, walau metode serangan itu telah dipakai di sejumlah lokasi, tapi tidak berarti semuanya saling berkaitan. Hanya saja, ia melihat bahwa para teroris itu terinspirasi oleh ISIS dan Al Qaeda yang memang gencar menyebarkan radikalisme.

Tujuan dari serangan tersebut untuk menggerus semangat persatuan dan multikulturalisme.

Seorang peneliti di Center for a New American Security’s Middle East Security Program, Nick Heras, berkata:

Jika pesan ISIS kuat dan mereka meminta para calon jihadis untuk melakukan jihad dan mereka melakukan serangan seperti ini sekali atau dua kali dalam sebulan, ini mengindikasikan kondisi perubahan, dalam arti pesan mereka benar-benar sampai dan kondisi di masyarakat Barat telah mencapai titik di mana sangat tak mungkin untuk menghentikan mereka (ISIS).

Cara ini terbilang sangat mudah karena kelompok teroris tak perlu melatih mereka. ISIS, misalnya, hanya perlu menyebarkan ideologi mereka kepada siapapun, termasuk generasi kedua dan ketiga dari keluarga imigran, yang memahami dinamika sosial politik di negara mereka tinggal.

Heras kemudian menambahkan bahwa:

Mereka tidak mengancam untuk meruntuhkan semua masyarakat di negara yang mereka serang, tapi mereka mengancam untuk menggerus semangat kerjasama, multikulturalisme dan rasa perdamaian sipil.

Tak hanya London, Nice dan Berlin turut menjadi lokasi serangan dengan metode serupa.

Sebuah van dengan sengaja menabrak pejalan kaki di Jembatan Westminster pada Rabu (22/3). Tak lama kemudian sang pengemudi, yang diketahui bernama Khalid Masood, memasuki area Gedung Parlemen Inggris dan menusuk seorang anggota kepolisian.

Masood memang langsung ditembak mati. Namun, akibat tindakannya itu lima orang, termasuk anggota polisi itu, meninggal. Sedangkan ada sekitar 50 orang yang terluka akibat ditabrak oleh van yang dikendarai Masood.

Sebelumnya, yakni pada 19 Desember 2016, sebuah truk sengaja menabrak kerumunan di pasar Natal Breitscheidplatz yang berlokasi di Berlin, Jerman. Pria yang diduga melakukannya, Anis Amri, ditembak mati oleh kepolisian di Milan pada 23 Desember. Tragedi itu menewaskan 12 orang.

Pada 14 Juli 2016, ketika warga kota Nice, Prancis, tengah merayakan Bastille Day dengan berkumpul untuk menonton pertunjukkan kembang api, seorang pria dengan sengaja menabrak mereka dengan sebuah truk. 

Pelakunya adalah Mohamed Lahouaiej-Bouhlel yang merupakan seorang sopir kelahiran Tunisia yang telah lama tinggal di Prancis. Ia ditembak mati oleh kepolisian. Adapun sebanyak 84 orang tewas karena peristiwa tersebut.

Baca Juga: Tangkal ISIS dari Filipina, Indonesia Tingkatkan Patroli

Source link

قالب وردپرس

Tentang Penulis

Admin

Memastiksn Bindoline berjalan lancar

Tinggalkan Komentar