Tugas Siswa

Rahasia Meede

images-14
Olivya Chairisza
Ditulis Oleh Olivya Chairisza

Rahasia Meede

images-14

Judul buku: Rahasia Meede

Pengarang: I.S. Ito

Penerbit: Hikmah

Editor buku: Yulia fitri

Tahun terbit: 20 agustus 2007

Tebal: 675 Halaman

Ukuran Buku: 20 cmx13 cm

Jenis kertas: Buram daur ulang dalam negeri

ISBN: 978-979-117-099-7

 

Rahasia Meede” merupakan sebuah gebrakan baru dunia sastra yang bisa dibilang telah tertidur pulas cukup lama. Novel kontemporer ini menyuguhkan permasalahan yang menarik. Sebuah hal yang sudah tak lagi digubris masyarakat hingga kaum pelajar sekalipun. Permasalahan tentang konflik kolonialisme yang melahirkan berbagai macam suspensi unik membuat novel ini semakin menarik untuk dibaca. E.S. Ito mengemas sebuah fakta sejarah dan merangkaikannya kembali menjadi fiksi yang dahsyat. 

 

      Novel yang dipenuhi misteri menegangkan ini seolah-olah mengajak pembaca untuk turut berpikir memecahkan permasalahan yang ada. Sindiran terhadap kinerja pemerintah saat itu dan kritikan terhadap mental bangsa pun tak luput tersirat dalam setiap ulasannya.

Dengan runtut, E.S.Ito mengemukakan ceritanya mulai dari konflik yang terjadi di Den Haag pada akhir tahun 1949, dalam Konferensi Meja Bundar. Setelah menyepakati banyak hal, perundingan itu menemui jalan buntu ketika Belanda meminta Indonesia untuk melunasi hutang-hutang yang pernah dibuat oleh pemerintah kolonial sebagai syarat untuk pengakuan kedaulatan. Sumitro bersuara lantang menolak hutang yang tidak pernah dibuat Indonesia itu. Delegasi Hatta pun dilanda dilemma dan akhirnya memilih menerima persyaratan itu. Lebih dari lima puluh tahun kemudian, wartawan muda koran Indonesiaraya Batu Noah Gultom mencium jejak pembunuhan berantai dengan korban orang penting di Boven Digoel Papua. Ini melengkapi tiga pembunuhan misterius sebelumnya di Bukittinggi, Brussel dan Bangka. Mata rantai pembunuhan itu adalah kesamaan huruf “B” pada huruf awal lokasi pembunuhan. Pada saat yang bersamaan tiga orang peneliti dari Belanda, Erick Marcellius de Noiijer, Rafael Alexander van de Horst dan Robert Stephane Daucet terjebak dalam gairah ilmu untuk menemukan de ondergrondse stad, kota bawah tanah di daerah kota tua Jakarta. Penelitian yang tekun menuntun mereka untuk mengungkap rahasia ratusan tahun. Hingga akhirnya pertanyaan-pertanyaan mulai terjawab, tentang peristiwa di tahun 2002, 1949, 1722, hingga masa akhir pemerintahan Deandels di Batavia. Pembunuhan berantai, kota bawah tanah, surat Kew, Monsterverbond, Erberveld, KMB berujung pada satu misteri harta karun VOC. 

Tokoh-tokoh dan setting yang tercipta dalam novel ini diperoleh setelah berkubang dalam lautan data dan ber-kontemplasi terhadap kondisi dan situasi yang saat ini sedang berlangsung di seputar kehidupan ES ITO. Kehidupan sebagai seorang mantan aktivis kampus, aktivis LSM, dan alumni SMA Taruna Nusantara membuat dirinya memiliki banyak teman dan jaringan informasi yang begitu luas sehingga paham dengan dunia militer, sosial, dan politik yang penuh intrik dan trik yang kejam tanpa memandang rasa kemanusiaan.

 

Di dalam novel terbarunya ini, ES ITO bercerita tentang perburuan harta karun Indonesia dan pernak-pernik persahabatan serta seluk beluk kegiatan intelejen di Indonesia. Pengakuan Kedaulatan Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar yang dimulai pada 23 Agustus 1949 di DenHaag menyisakan sebuah rahasia sejumlah besar harta dari masa lalu ketika Indonesia masih dikendalikan VOC. Kabar tentang besarnya jumlah harta tersebut telah membuat banyak pihak memastikannya melalui berbagai macam kegiatan dengan kedok penelitian sejarah, penggalian arkeologis, pencarian kerabat, dan sebagainya mulai dari orang-orang yang berasal dari dalam negeri dan negara-negara lainnya terutama Belanda. Tokoh utama dalam perburuan harta karun ini, Batu Noah Gultom/Batu August Mendrofa dan Attar Malaka/Kalek merupakan 2 (dua) orang sahabat karib semenjak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas Taruna Nusantara. Sebuah sekolah berasrama penuh dengan sistem semi militer yang diprakarsai oleh LB. Moerdani didirikan pada tahun 1990 untuk menciptakan kader-kader pemimpin Indonesia yang memiliki wawasan nusantara, wawasan kebangsaan dan wawasan kebudayaan di masa depan. Sekolah yang mengutamakan keseragaman baik dalam hal berpakaian, bertingkah laku, dan bertindak. Meniadakan berbagai macam penyelewengan meskipun sebatas pemikiran yang tidak sesuai dengan konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kehidupan sehari-hari Batu dan Kalek di dalam Asrama dipenuhi dengan berbagai “kejahatan” karena tindakan mereka yang dianggap telah melanggar peraturan, yang tertulis maupun yang “dicari-cari”. Meskipun sebenarnya tindakan yang mereka lakukan tidaklah salah menurut prinsip yang mereka yakini.

Hukuman demi hukuman yang selalu mereka terima dalam keseharian mereka di dalam lingkungan sekolah berasrama penuh tersebut mulai dari push up, membersihkan kamar mandi di waktu malam, bahkan termasuk di dalamnya pengucilan tidak diikutsertakan dalam kegiatan kesiswaan, tidak membuat mereka patah arang dan kehilangan jatidiri. Sebaliknya, hal itu makin menguatkan ikatan persahabatan mereka dan meneguhkan semangat mereka untuk bertindak dan bertingkah laku sesuai prinsip yang mereka yakini. Melawan KetidakAdilan dan Kesewenang-Wenangan. Sebuah keberuntungan bila akhirnya mereka lulus dengan prestasi dan bukan menjadi bagian dari orang-orang yang membutuhkan terapi untuk mengembalikan kesadaran psikologis.

Setelah lulus dari SMA Taruna Nusantara, mereka mengambil jalan yang berbeda. Batu masuk ke Akademi Militer, termasuk lulusan terbaik kemudian masuk ke Komando Pasukan Khusus (Kopasus) Grup 3 Sandhi Yudha yang berkedudukan di Cijantung. Aktif dalam berbagai kegiatan intelejen dan dikenal di dunia intelejen Indonesia dengan nama sandi Lalat Merah. Sedangkan Kalek meneruskan pendidikan di Universitas Indonesia jurusan Ilmu Perpustakaan, aktif dalam berbagai diskusi mengenai perbaikan kondisi Indonesia selama masa kuliah, kemudian bekerja sebagai wartawan dan akhirnya namanya dikaitkan dengan sebuah gerakan yang melakukan terror terhadap kedaulatan Indonesia dengan Anarki Nusantara-nya.

Konflik puncak terjadi ketika Batu yang telah menerima doktrin untuk mempertahankan kedaulatan NKRI, menerima tugas dari salah seorang mantan pimpinannya di jajaran Angkatan Darat untuk menangkap Kalek yang telah menjadi sahabatnya sejak duduk di bangku SMA. Ribuan informasi diserap, ratusan lokasi diteliti, dan puluhan orang diinterogasi belum mampu menemukan keberadaan Kalek yang telah dinyatakan mati dalam sebuah kecelakaan. Hingga akhirnya ditemukan melalui kejadian yang tidak terduga di lokasi terpencil di suatu kepulauan yang indah diisi oleh orang-orang yang masih mengagungkan keramahan, tolong menolong, gotong royong dan tidak mudah menjatuhkan prasangka buruk kepada orang lain. Sebuah kondisi ideal dalam kehidupan bermasyarakat. Pergolakan Pemikiran dan Pertentangan batin terjadi pada diri Batu.

Buku yang diterbitkan pertama kali pada bulan Agustus 2007 ini, telah memeras banyak keringat penulisnya, buku ini rampung dalam kerja keras selama dua tahun, dan kerja keras selama itu seharusnya terbayar lunas dengan hadirnya sebuah karya brilian yang menawarkan ekspresi baru bagi para pecinta buku bacaan, utamanya Sastra.

Alur cerita disusun dengan sangat cerdik, pembaca tidak hanya disuguhkan bacaan nikmat dan reflektif, akan tetapi diajak mengelilingi nusantara dengan pemandangan kolonialisme. Bentangan masa kolonialisme dan masa kebebasan nusantara sekarang, dihubungankan oleh sebuah tali sejarah yang menjadikan manusia Indonesia tidak boleh luput dari pengalaman buruk selama 350 tahun.

“Rahasia Meede”, sebuah kisah yang menarik dan patut dijadikan referensi bacaan bagi penggemar petualangan. Setiap kata yang tertulis dan kalimat yang terbaca dalam novel ini menghadirkan ketegangan emosi yang berasal dari kecerdikan dan kelicikan manusia-manusia dengan tingkat ketamakan masing-masing terhadap harta dan kekuasaan.

 

Tentang Penulis

Olivya Chairisza

Olivya Chairisza

Tinggalkan Komentar