Tugas Siswa

Stuktur Teks Anekdot Belajar Kebijaksanaan dan KUHP

kartun-siswa2-gambar-kartun-muslim-sekolah-600x452
Viona Ramadhani
Ditulis Oleh Viona Ramadhani

kartun-siswa2-gambar-kartun-muslim-sekolah-600x452

Stuktur Teks Anekdot Belajar Kebijaksanaan dan KUHP

Belajar Kebijaksanan

            Darwis ingin belajar tentang kebijaksanaan hidup dari Nasrudin. Nasrudin bersedia, dengan catatan bahwa kebijaksanaan hanya dapat dipelajari secara langsung.

            Malam itu Nasrudin menggosok-gosokkan kayu untuk membuat api. Api kecil itu ditiup-tiupnya. “Mengapa api itu kau tiup?” tanya Darwis. “Agar lebih panas dan lebih besar apinya,”jawab Nasrudin.

            Setelah api besar, Nasrudin memasak sup. Sup menjadi panas. Nasrudin menuangkannya ke dalam mangkuk. Ia mengambil mangkuknya, dan meniup-niup supnya.

           “Mengapa sup itu kau tiup?” tanya Darwis.

            “Agar lebih dingin dan enak dimakan,“ jawab Nasrudin.

            “Ah, aku rasa aku tidak jadi belajar darimu,” ketus Darwis.

            “Engkau tidak konsisten dengan pengetahuanmu.”

 
Struktur:

*Abstrak    :   Darwis ingin belajar tentang kebijaksanaan hidup dari Nasrudin.
                     Nasrudin bersedia, dengan catatan bahwa kebijaksanaan hanya dapat
                    
dipelajari secara langsung.

*Orientasi :  Malam itu Nasrudin menggosok-gosokkan kayu untuk membuat api.
                    Api
kecil itu ditiup-tiupnya. “Mengapa api itu kau tiup?” tanya Darwis. “Agar
                   
lebih panas dan lebih besar apinya,”jawab Nasrudin.

*Krisis       :  “Mengapa sup itu kau tiup?” tanya Darwis.
                  
 “Agar lebih dingin dan enak dimakan,“ jawab Nasrudin.

*Reaksi   : “Ah, aku rasa aku tidak jadi belajar darimu,” ketus Darwis.

*Koda       :    “Engkau tidak konsisten dengan pengetahuanmu.”

 

KUHP

            Seorang dokter fakultas hukum suatu universitas sedang memberikan kuliah hukum pidana. Suasana kelas biasa-biasa saja.

            Saat sesi tanya jawab tiba, Ali bertanya kepada pak dosen. “Apa kepanjangan KUHP?, Pak?” Pak dosen tidak menjawab sendiri, melainkan melemparkannya kepada Ahmad. “Saudara Ahmad, coba dijawab pertanyaan Saudara Ali tadi,” pinta pak dosen.

            Dengan tegas Ahmad menjawab,”Kasih Uang Habis Perkara Pak!”

            Mahasiswa lain tentu tertawa, sedangkan pak dosen hanya geleng-geleng kepala, seraya menambahkan pertanyaan kepada Ahmad, “Saudara Ahmad darimana saudara tahu jawaban itu?” Dasar Ahmad, pertanyaan pak dosen dijawabnya dengan tegas, “Peribahasa Inggris menyatakan pengalaman adalah guru terbaik, Pak…!” Semua mahasiswa di kelas itu tercengang. Mereka berpandang-pandangan. Lalu mereka tertawa terbahak-bahak.

            Gelak tawa mereda. Kelas kembali berlangsung normal.

Struktur:

*Abstrak   :   Seorang dokter fakultas hukum suatu universitas sedang memberikan
                    
kuliah hukum pidana. Suasana kelas biasa-biasa saja.

*Orientasi :    Saat sesi tanya jawab tiba, Ali bertanya kepada pak dosen.
                      “Apa
kepanjangan KUHP?, Pak?” Pak dosen tidak menjawab sendiri,
                      
melainkan melemparkannya kepada Ahmad. “Saudara Ahmad, coba
                      
dijawab pertanyaan Saudara Ali tadi,” pinta pak dosen.

*Krisis      :    Dengan tegas Ahmad menjawab,”Kasih Uang Habis Perkara Pak!”

*Reaksi     :  Mahasiswa lain tentu tertawa, sedangkan pak dosen hanya
                     geleng-
geleng kepala, seraya menambahkan pertanyaan kepada Ahmad,
                   
“Saudara Ahmad darimana saudara tahu jawaban itu?”

*Koda       :       Dasar Ahmad, pertanyaan pak dosen dijawabnya dengan tegas,
                    
“Peribahasa Inggris menyatakan pengalaman adalah guru terbaik,
                     
Pak…!” Semua mahasiswa di kelas itu tercengang. Mereka berpandang-
                     
pandangan. Lalu mereka tertawa terbahak-bahak.

 

 

TUGAS OLEH: VIONA RAMADHANI

                Kelas           : X

                Lokal           :MIPA 7

#Teksanekdot#strukturteksanekdot #belajarkebijaksanaan#KUHP

 

 

 

 

Tentang Penulis

Viona Ramadhani

Viona Ramadhani

Tinggalkan Komentar